Kamis, 26 Mei 2011 15:18 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA – Mantan Presiden BJ Habibie akan memanggil 48 ribu ilmuwan Indonesia yang saat ini tersebar di beberapa industri pesawat terbang di dunia. Mereka merupakan ahli pembuat pesawat terbang yang dahulu bekerja di bawah payung industri Dirgantara Indonesia. Para ilmuwan tersebut diharapkan bisa ikut membangun industri startegis dirgantara Indonesia kembali dan mengembalikan kejayaan industri tersebut di Indonesia.

“Sekarang sudah ada komitmen baik dari menteri, kita harus dukung itu. Itu menjadi tugas saya sebagai Eyang (Kakek),” papar Habibie di hadapan puluhan mahasiswa aktivis UGM pada Kamis (26/5).

Habibie juga menjadi Presidential Lecture pada puncak peringatan dies natalis UGM ke-62 dan sekolah pasca sarjana UGM ke 30. Habibie menyampaikan pidato berjudul ‘Membangun Daya Saing, Tantangan Pilihan dan Kebijakan’.

Menurutnya, pasca tragedi pesawat MA 60, masyarakat dan pemerintah Indonesia rindu akan kejayaan industri dirgantara pada tahun 1990-an. Namun, keinginan tersebut diharapkan jangan sampai masuk ke perangkap untuk berpolemik seperti jaman dahulu sehingga industri dirgantara melemah.

Diakuinya, industri pesawat terbang dan kapal Indonesia sempat berjaya selama 40 tahun lebih. Namun tahun 1995 atas keinginan IMF, industri yang berhasil memperkerjakan 48 ribu ilmuwan tersebut harus ditutup dengan berbagai alasan. “Kita dibangkrutkan secara sistematis. Padahal kita sehat, pihak yang memiliki hutang itu pihak swasta. Itu siapa, ya mereka sendiri yang menanam investasi di sini,” tandasnya.

Namun, kata Habibie, kejadian tersebut sudah berlalu. Saat ini pemerintah nampaknya memiliki keinginan kembali untuk memajukan industri tersebut. Keinginan tersebut harus didukung oleh para ilmuwan-ilmuwan tadi. Karena setelah dilemahkan tahun 1995, industri dirgantara Indonesia hanya menyerap tiga ribu tenaga kerja saja.